PENDAFTARAN CALON PENYEDIA JASA POS BANTUAN HUKUM (POSBAKUM) PADA PENGADILAN AGAMA PRABUMULIH TAHUN ANGGARAN 2024
.png)
.png)
.png)
www.mahkamahagung.go.id - Bandung - Humas : Berbagai prestasi yang diraih oleh pengadilan Indonesia dewasa ini sudah cukup membanggakan. Tugas terpenting pengadilan selanjutnya adalah merebut kembali kepercayaan masyarakat kepada lembaga peradilan. Karena itu, prestasi-prestasi tersebut haruslah diorientasikan untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, khususnya pencari keadilan.
Demikian antara lain disampaikan Sekretaris Mahkamah Agung, A. S. Pudjoharsoyo, S.H., M. Hum., saat melakukan pembinaan terhadap pimpinan empat lingkungan peradilan di Pengadilan Tinggi Agama Jawa Barat, Kamis (3/1/2019) lalu. Selain pimpinan pengadilan tingkat pertama, hadir pula Ketua Pengadilan Tinggi Bandung, Ketua Pengadilan Tinggi Agama Jawa Barat dan Hakim Agung, YM. DR. H. Abdul Manaf, S.H., M.H.
Dengan diraihnya kepercayaan masyarakat terhadap pengadilan, menurut Pudjoharsoyo, maka tidak ada lagi masyarakat yang akan ‘kasak kusuk’ lagi dalam menuntut hak dan mendapatkan keadilan.
Dua Strategi Meraih Kepercayaan Masyarakat

Untuk meraih kepercayaan publik tersebut, Pudjoharsoyo menawarkan setidak-tidaknya dua strategi utama, yakni peningkatan kualitas pelayanan dan pergeseran mindset aparatur pengadilan.
Berbagai terobosan yang dikreasikan oleh Mahkamah Agung dan Badan Peradilan di bawahnya, seperti Akreditasi Penjaminan Mutu yang sudah diraih oleh hampir seluruh satuan kerja pengadilan, pengembangan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), pengadilan berbasis elektronik (e-court), harus dapat diorientasikan sebagai langkah nyata meningkatkan kualitas pelayanan, bukan sekedar meraih sertifikat atau pengakuan semata.
“Pertanyaan bagi kita semua, apakah kita akan berhenti ketika sudah memperoleh sertifikat akreditasi A Excellent?” ujar Pudjoharsoyo menggugah.
“Ketika kita sudah mendapatkan 7 (tujuh) duta Reformasi Birokrasi (RB) dengan predikat Wilayah Bebas Korupsi (WBK), apakah ketujuh satker ini akan berhenti? Lalu apakah satker lain yang belum memperoleh predikat akan berhenti mengupayakannya?” ujarnya lagi-lagi menggugah hadirin.
Menurut Pudjoharsoyo, terobosan-terobosan tersebut adalah sarana untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. “Tujuan reformasi birokrasi adalah memberikan pelayanan publik yang prima,” tegasnya.
Ia pun mengingatkan dengan hasil survey yang disebutkan dalam dokumen International Framework for Court Excellence. “Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa persepsi mereka yang menggunakan (jasa) pengadilan lebih dipengaruhi oleh bagaimana mereka diperlakukan dan apakah prosesnya terlihat adil, ketimbang apakah mereka menerima hasil yang disukai atau tidak,” ungkapnya menggambarkan.
Berdasarkan pernyataan tersebut, lanjut Pudjoharsoyo, maka yang perlu dilakukan oleh aparatur pengadilan adalah bagaimana menunjukkan bahwa proses untuk mencapai putusan akhir atau keadilan itu dilakukan secara transparan, sehingga dirasakan bahwa proses itu adalah proses yang adil.
Kecuali peningkatan kualitas pelayanan, strategi lain untuk meraih kepercayaan publik adalah pergeseran mindset aparatur pengadilan untuk menjadi lebih baik. Caranya adalah dengan meresapi ke dalam hati makna dibalik terobosan-terobosan yang dikembangkan oleh institusi.
“Jika tidak diresapi sampai kedalam hati, semua ini tidak akan ada gunanya dan boleh jadi kita tidak akan mencapai peradilan Indonesia yang agung pada tahun 2035,” tegasnya.
Pergeseran mindset ini lanjut Pudjoharsoyo menjadi penting dalam rangka menyongsong peradilan Indonesia yang agung. (Humas/Mohammad Noor/RS)

Jakarta - Humas MA: Rabu pagi 22 Januari 2020, Mahkamah Agung dengan bangga menyelenggaran peluncuran buku Senika Apa Berkutika Jejak Langkah Wanita Pertama di Jajaran Pimpinan Mahkamah Agung. Buku ini adalah biografi Mariana Sutadi Nasution yang merupakan wanita pertama yang menjadi Wakil Ketua Mahkamah Agung. Biografi yang diterbitkan oleh Kompas Gramedia ini ditulis langsung oleh Mariana Sutadi dibantu Donna Widjajanto dan Dharmawati. Senika apa berkutika adalah ucapan Nenek dari Mariana yang berarti segala sesuatu ada waktunya. Kata ini menjadi mantra yang sangat menginspirasi Mariana dalam menjalani hidup dan karirnya.

Sebagai inisiator peluncuran buku, Ketua Mahkamah Agung, Prof. Dr. M. Hatta Ali, SH., MH, dalam sambutannya di buku 222 halaman tersebut bahwa Ibu Mariana Sutadi adalah wanita pertama yang dipercaya mengemban tugas sebagai salah satu unsur pimpinan Mahkamah Agung. Diawali sebagai Ketua Muda Mahkamah Agung Urusan Pengawasan dan Pembinaan kemudian menjadi Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Yudisial sampai akhir masa baktinya pada tahun 2008. Untuk itu Hatta menyatakan sangat gembira menyambut terbitnya buku tersebut. “Pengalamannya, ketegasannya, ketegarannya bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang, terkhusus hakim.” Kata mantan Juru Bicara Mahkamah Agung tersebut.

Pada kesempatan tersebut, Mariana mengatakan bahwa dirinya tidak pernah membayangkan ataupun bermimpi menjadi Wakil Ketua Mahkamah Agung. “Semua berjalan begitu saja, saya kira yang lain juga bisa. Untuk itu saya berharap kepada seluruh hakim wanita bahwa kelak akan ada yang menjabat sebagai Wakil Ketua atau bahkan menjadi Ketua Mahkamah Agung,” kata Mariana di hadapan para pimpinan Mahkamah Agung, para Hakim Agung dan undangan lainnya.

Pada acara yang dihadiri juga oleh para mantan pimpinan Mahkamah Agung tersebut, Mariana berpesan kepada hakim wanita bahwa penampilan sangat penting, “Saya mendorong para hakim wanita harus rapih. Karena kalau rapih, penampilannya bagus, bisa menandakan bahwa putusannya juga rapih,” Kata Mariana yang suka bersepatu hak tinggi ketiga bertugas dulu. “Bagaimana bisa mengurus perkara kalau tidak bisa mengurus diri,” tegas Mariana. “Orang tidak bisa lihat bahwa kita bisa, bahwa kita profesional, kalau penampilan kita tidak rapih, tidak bagus,” tambahnya.
Mariana bercerita bahwa dalam perjalanan karirnya tidak selalu dipenuhi hal yang menyenangkan, karena pengaduan, ejekan, fitnah juga pernah diterimanya. Terkait hal tersebut beliau berpesan bahwa jika hal negatif datang, jangan takut, “kalau difitnah jangan jatuh mental harus tahan banting,” pesannya.

Mantan Ketua Mahkamah Agung Prof. Bagir Manan mengatakan bahwa buku ini sangat bermanfaat. Senada dengan Prof. Bagir, Sekretaris Mahkamah Agung A.S Pudjoharosyo mengatakan bahwa Mariana adalah satu-satunya perempuan yang pernah menapaki jenjang pimpinan di Mahkamah Agung dan belum terulang lagi hingga satu dasawarsa terlewat, untuk itu menurut Pudjoharsoyo ini harus dibaca oleh hakim wanita agar bisa mengikuti langkah-langkah Mariana berkarier. (azh/RS/Photo:PN)
Senin, tanggal 07 Januari 2019, bertempat di Ruang Sidang Utama, Pengadilan Agama Prabumulih kedatangan tamu dari Bank Syariah Mandiri (BSM) yang disambut langsung oleh Wakil Ketua Pengadilan Agama Prabumulih, Muhammad Fadhly, SHI., M.Sy. Dalam sambutan, Wakil Ketua Pengadilan Agama Prabumulih mengucapkan terima kasih atas kunjungan Tim sosialisasi dari Bank Syari’ah Mandiri ke Pengadilan Agama Prabumulih. Kegiatan ini diharapkan sebagai langkah awal untuk menjalin hubungan kerjasama antara Bank Syari’ah Mandiri Cabang Prabumulih dengan Pengadilan Agama Prabumulih. Kegiatan tersebut di ikuti oleh seluruh jajaran Hakim, Panitera,sekretaris, Pejabat Struktural dan Fungsional dan Pegawai Pengadilan Agama Prabumulih.
Adapun maksud dari kunjungan Bank Syariah Mandiri yaitu untuk menawarkan kerjasama antara BSM dengan PA Prabumulih berupa pemindahan gaji pegawai (payroll) ke BSM, dimana sebelumnya keberhasilan kerjasama tersebut sudah terjadi di beberapa Pengadilan Agama di Palembang, Surabaya, Takengon, dll. BSM adalah Bank Syariah pertama yang ditunjuk sebagai Bank Penyalur Gaji PNS (BO II ) (PMK Nomor 11/PMK.05/2016).
Selain itu, BSM juga menawarkan beberapa produk-produk unggulan, diantaranya BSM tabungan, BSM tabungan mabrur, BSM tabungan investasi cendekia, BSM deposito dan kredit bagi PNS/TNI/POLRI/BUMN.
Pada kegiatan tersebut terjadi tanya jawab antara Pegawai Pengadilan Agama Prabumulih dengan Tim Sosialisasi BSM terutama masalah jangka waktu investasi emas, pemindahan hutang dan KPR. Nampaknya para audiens sangat antusias dengan produk-produk BSM yang telah disampaikan, terbukti dengan berbagai pertanyaan yang disampaikan para audiens.
Kegiatan ini ditutup oleh Wakil Ketua Pengadilan Agama Prabumulih Bapak Muhammad Fadhly, SHI., M.Sy yang mengapresiasi niat baik BSM yang ingin membuat kerja sama dengan PA Prabumulih. Bapak Wakil Ketua memberikan beberapa catatan kepada Tim sosialisasi BSM, bahwa untuk terjadinya kerjasama tersebut tidak dapat diputuskan secara sepihak namun harus mendengar masukan lebih lanjut dari seluruh pegawai.